Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

ITB DampingiI Pemdes Jatimukti Wujudkan "DEWA" Di bekas-bekas Galian Terbengkalai


SUMEDANG, SundaRayaNews.Com -- Pihak Institut Teknologi Bandung (ITB),  dalam hal ini Prodi Rekayasa Kehutanan (RK) dan Prodi Tambang (RA) lakukan pendampingan kepada Pemdes Jatimukti Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang Jawa Barat untuk menyulap lahan kritis bekas galian urugan seluas 3,9 hektar dengan konsep Desa Edukasi Wisata Agroforestry (DEWA).


Dikatakan Dr. Ir. Yayat Hidayat S.Hut, M.Si, selaku koordinator lapangan /Pengampu mata kuliah Teknik Silvikultur kepada Jurnalis Media Online SundaRayaNews.Com,  Sabtu ( 9/12), sebanyak 200 mahasiswa ITB kolaborasi  antara mata kuliah Teknik Silvikultur (Teksil) pada Prodi RK SITH ITB dan mata kuliah Lingkungan Tambang (Lingtam) pada Prodi TA FTTM ITB telah lakukan gerakan penanaman di areal lahan kritis tadi.


Terbentuknya lahan kritis di wilayah Gunung Geulis, lanjut Yayat, menjadi tantangan bagi ITB. Apalagi fenomenya seolah-olah berada di depan kampus. " Sejak 2017, mahasiswa ITB  telah terjun  ke lapangan, melakukan praktik melihat dan mempelajari efek dari pengerukan lahan, " Semua itu untuk merancang model pemulihan   yang cocok untuk lahan kritis, " katanya.

Dr. Ir. Yayat Hidayat S.Hut, M.Si Pengampu Mata Kuliah Teknik Silvikultur Prodi RK SITH ITB

Dikatakan lebih jauh, konsep pemulihan lahan di sekitar Gunung Geulis Desa Jatimukti mengusung tema DEWA ( Desa Edukasi Wisata Agroforestry ). DEWA itu sendiri, lanjut Yayat, dimungkinkan atas beberapa pertimbangan
. Desa merupakan ujung tombak dari proses pembangangunan. Desa sebagai pemangku wilayah, harus diposisikan sebagai aktor utama kegiatan pemulihan lahan.

Yayat menjelaskan,  pemulihan lahan diantaranya dengan teknologi “mubogsang” ( mulsa gedebog pisang). Teknologi klasik menjaga kelembaban tanah dan memanen air secara langsung dari atmosfer. Dengan teknologi ini, terjadi efisiensi  3-4 bulan tahan dipakai  pada musim kemarau. Bahkan,  pada musim hujan dapat lebih lama lagi. Keuntungan lain dari teknologi ini adalah menekan pertumbuhan gulma pengganggu di sekitar tanaman dan  mengaktifkan mikroorganisme tanah penyubur lahan.


Dalam pemilihan varietas tanaman, imbuh Yayat, harus dicari  pohon yang relatif bisa tumbuh pada lahan yang telah kehilangan top soilnya. Misal, buah naga dengan teknologi “potbabe” (pot ban bekas). Umumnya petani menanam buahnaga dengan menggunakan penyangga dari beton, " Dalam hal ini kami melakukan rekayasa (inovasi) mengganti penyangga beton dengan tanaman jenis kihanjuang, sehingga lebih ramah lingkungan,”  pungkasnya.

Jurnalis      :   Tatang Tarmedi
Editor         :   MR