Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Guru Honor Sekolah Swasta, "Pengabdian Tak Bertuan"

Imadudin, S.Ag., Kepala Sekolah MTs Istigfarlah Sumedang

 

Oleh : Imadudin,S.Ag

Kepsek MTs Istigfarlah Sumedang

SUMEDANG, SundaRayaNews.Com - Guru merupakan pilar utama dalam menentukan masa depan bangsa. Guru merupakan qodarulloh yang secara terus berfikir bagaimana agar kelak anak anak bangsa menjadi para generasi yang mampu merubah tata negara yang lebih baik dan menuju negara yang signifikan menjadi negara maju, mampu mensetarakan negara negara maju lainya. Selain itu Negara Indonesia harus memiliki sumber daya manusia yang handal dalam segala aspek.

Namun semua itu bagi para guru honor swasta yang sudah jelas jelas mengabdikan diri sebagai pendidik dengan penuh kehusuan, keseriusan sampe sampe banyak para peserta didiknya yang berprestasi, bahkan prestasi mereka mengalahkan prestasi peserta didik di sekolah sekolah negeri

Miris ketika mereka dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik harus selalu berjibaku dengan kesibukan diluar jam mengajar yakni mencari sesuap nasi untuk menghidupi anak dan keluarganya.

Kondisi seperti ini terkesan mereka para guru merasa sebagai para pengabdi, karyawan negara, pelayan masyarakat tak bertuan. Mengapa?..disaat sakit selalu dibingungkan dengan biaya berobat, BPJS pun banyak yang tidak memiliki bahkan tak terbayarkan dalam perbulanya.

Kata orang, kalau guru yang bernaung di yayasan maka yayasanlah yang harus bertanggung jawab, untuk menjawab statement itu sangat sulit untuk dijadikan jawaban terakhir, karena tidak sedikit yayasan bisa berdiri karena terdesak dan terpaksa untuk mendirikan salah satu sekolah, yayasan terpaksa dibuat karena merupakan salah satu sarat untuk pembuatan sekolah.


Kita berfikir logis ketika sekolah dibuat dibangun didirikan di lokasi yang jauh dari perkotaan, untuk di jaman yang sudah serba canggih ini, mereka anak anak jaman now ini sudah pada gak mau untuk berjalan kaki dari rumah ke perkotaan untuk sekolah, naik ojek mahal per hari hampir 30 rb, beli motor tidak terjangkau.

Akhirnya para pemerhati pendidikan berfikir dan membuatlah sekolah demi menampung para siswa siswi yang putus sekolah dari SD/MI..
atas dasar itu semoga para pendidik yang sudah berjuang demi mereka, kini mendapat perhatian dari para pelaku kebijakan yakni pemerintah

Penulis : Imadudin, S.Ag.
Kepala Sekolah MTs Istighfarlah
Kabuoaten Sumedang.

Editor : Red