Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ki Kebo Kenongo Mantan Pawang Ular Dari Sumedang

SUMEDANG, SundaRayaNews.com -- Nama Darsum bagi pecinta pentas seni ketangkasan di Jawa Barat, niscaya tidak bakal asing lagi. Di era zaman keemasannya, sekitar tahun 1990-an, Darsum sering kali bersensasi   lewat atraksi-atraksinya  yang bikin orang tahan napas. Kini, seorang Darsum, telah bermetamorfosa menjadi Ki Kebo Kenongo, akhli spiritual yang rajin mendalami hakekat kehidupan.  

Ki Kebo Kenongo peragakan kembali keperkasaannya tempo dulu

Ditemui baru-baru ini, sosok Darsum yang ketika jaman keemasannya bertubuh kekar dan berambut hitam gondrong. Kini, ketika menjelma seorang Ki  Kebo Kenongo,  menjadi sesosok tua dan berpenampilan kalem. Namun, dari rambutnya yang masih gondrong beruban dan kulit tangannya  penuh bekas gigitan ular, pria warga Desa Cibeureum Wetan Kecamatan Cimalaka Kabupaten Sumedang Jawa Barat ini, tetap masih menggambarkan sisa-sisa keperkasaannya.  

Dengan sorot mata tajam, Ki Kebo Kenongo bertutur tentang masa lalunya. Ketika orang-orang menyebutnya sesosok Pawang Ular, " Padahal, awalnya, saya bukan pawang ular. Tapi, seorang pemasok ular.  Ular-ular berbisa dan sanca phyton di Bunbin Bandung pada zaman itu, kebanyakan hasil pasokan saya, " Kata Darsum.  Bercerita tentang pencarian ular-ular berbisa, Darsum merasa semua itu ibarat sebuah jalan kehidupan. Pantang ada rasa takut. Tidak pernah bernyali ciut. Bahkan, tidak pernah pula berbekal obat atau ramuan anti bisa. Ketika datang waktu nahasnya, terkena patukan ular berbisa, ia berusaha untuk tidak panik. Pulang dan merawatnya sendiri di rumah.  

 Ki Kebo Kenongo peragakan cara taklukan ular cobra
 
Ki Kebo pun berkisah tentang perburuan ular phyton raksasa. Semua itu, katanya, berlangsung pada malam hari. Ketika bulan purnama atau dengan  bantuan obor. Ia susuri  sungai di tengah hutan belukar. Tubuh ular phyton raksasa akan berkilap bila terkena cahaya bulan atau obor. Ketika itu terjadi, ia bersiap untuk  lakukan pertarungan dengan phyton. Duel serupun tergelar di tengah sungai atau di bawah semak-semak rimba.  

Darsum dekati tubuh hewan predator itu. Dengan satu gerakan, ia himpit bagian kepala phyton. Namun, sang preedator tidak diam begitu saja. Ketika tubuhnya terhimpit, hewan itu lakukan serangan pembalasan. Bagian ekor phyton menggulung tubuh Darsum. Tapi, dengan segenap pengalamannya, Darsum bisa terbebas dari gulungan mematikan itu.  

Cerita  tentang penangkapan phyton tersebut, seolah hampir mirip dengan pentas  pertarungan Darsum bergulat dengan ular phyton raksasa  di Pasar Induk Gedebage Bandung, sekitar tahun 2000. Waktu itu, penulis berita ini, saksikan sendiri, betapa serunya  pentas Darsum  untuk menorehkan namanya di Museum Rekor Indonesia (Muri) . Namun, sayang,  Darsum  gagal  tercatat di museum milik Jaya Suprana itu. Karena sang predator mampu mencabik paha Darsum hingga ia diboyong ke Rumah Sakit Al Islam Bandung.   ( Tatang Tarmedi)